X-Ray Band
Juni 12, 2008
X-Ray band sudah berdiri sejak 2 tahun silam. Tepatnya saat Widi, Ridho, Bastian, dan Hega secara tak sengaja bertemu di Angkringan Toegoe Jogja. Mereka berkenalan, nongkrong, dan ngobrol kesana-kemari tentang keseharian mereka.
Widi, ia bercerita tentang hobinya bermain drum. Kemana saja, Widi selalu membawa stik drum kesayangannya. Konon, stik drum itu adalah pemberian kekasih Widi yang pernah Widi sakiti. Widi mempunyai kebiasaan menggerakkan kaki dan tangannya seolah-olah dia sedang menghadapi satu set drum dimanapun ia berada.
Ridho, ia adalah seorang gitaris yang sering sekali diajak manggung oleh beberapa band ternama di Indonesia untuk menjadi additional guitarist. Namanya memang tak pernah terdengar, karena Ridho tak pernah ingin membanggakan kemampuannya yang menurutnya tidak seberapa itu. Tapi, ia sangat lihai memainkan gitar, terlebih lagi kemampuannya membuat lirik lagu. Semua anggota X-Ray band selalu memberinya acungan empat jempol.
Bastian, cowok keren berambut hitam pekat dengan alis mata tebal ini mengaku kalau jari-jari tangannya pernah bengkak-bengkak saat pertama kali belajar bass. Bastian sangat mengidolakan basistnya Red Hot Chili Pepper. Itulah sebabnya, Bastian selalu bertingkah rileks namun enjoy saat memetik senar bass yang gede-gede itu setiap kali manggung.
Kalau Hega, ia pernah mengikuti lomba karaoke tingkat kelurahan sewaktu lomba 17 Agustus. Waktu itu Hega masih berusia 14 tahun. Sejak saat itu, Hega yang ditangkap basah oleh gitaris band Tupai, band kakak kelas Hega, pada akhirnya menjadikan Hega vokalis inti band tersebut. Hega sering diajak manggung oleh band-band lain di cafe-cafe di Jogja, hal itu membuat anggota band Tupai naik pitam yang akhirnya memutuskan untuk membubarkan band. Hega yang memiliki suara bariton ini ternyata juga sangat pintar memainkan keyboard.
Saat ini mereka berempat sedang berada di dalam bis kota oranye yang menuju ke arah malioboro. Meskipun X-Ray band sudah cukup terkenal di negri orang, namun tak banyak orang Jogja yang mengenali mereka. Buktinya, mereka bisa dengan leluasa mondar-mandir di dalam bis sambil iseng-iseng ngamen.
“Pak, STOP disini Pak!” Teriak Bastian dengan suaranya yang melengking sesaat sebelum bis mencapai Stasiun Tugu.
Bastian segera menuruni bis, diikuti oleh ketiga sahabatnya yang betampang gantheng tapi berpenampilan aneh itu. Mereka berempat memang kompak saat bermain musik, namun soal berpakaian, mereka memiliki selera yang extremly different.
Ridho si gondrong yang memakai jaket kuning dan celana jins biru, segera menyeberangi Jalan Pangeran Mangkubumi itu. Mereka berempat pun akhirnya tiba di Angkringan Toegoe untuk merayakan 2 tahun sudah mereka membentuk band ini.
Hega memakai celana jins ketat dengan kaus putih butut yang sudah banyak berlubang disana-sini. Rambut yang berpotongan Emo sangat serasi dengan sepatu hitam pekatnya. Hidungnya yang mancung dan wajah yang penuh kharisma itu bisa membuat para wanita tergila-gila. Saat Hega memesan empat es tape ketan, beberapa cewek yang juga sedang nongkrong memperhatikan Hega tanpa mengedipkan mata.
Bastian si RHCP habis yang mengenakan celana tigaperempat hitam dan sehelai kaus putihnya cepat-cepat mengambil posisi nyaman di trotoar di seberang angkringan. Sedangkan sandal jepit sebagai ciri khas Bastian yang tak pernah lupa menempel di kedua telapak kakinya ia letakkan dengan rapi disamping tempatnya duduk bersila. Ia banyak mengkoleksi sandal jepit dari yang paling mahal hingga yang paling murah dan juga dari yang simpel sampai yang paling norak.
“Woi, pada mau makan apaan nih?” Teriak Widi sambil memegangi piring. Rambut keriting Widi yang hampir dipangkas cepak itu membuatnya tampak mirip Marcell kalau dilihat dari belakang.
“Terserah kamu aja!” Teriak Bastian dan Ridho secara bersamaan.
Tak lama kemudian, sebuah sepeda motor yang berwarna mayoritas hitam dan bergambar Casper disudut bodynya berhenti dan terpakir tepat di belakang Widi memesan makan. Dua orang cewek menuruni sepeda motor tersebut. Mereka memakai jins hitam dan kaus hitam pula. Tak lupa mereka pun akhirnya melepaskan helm hitam yang dikenakan mereka.
Saat Widi berbalik, dia terkejut dengan sosok Yaksa yang tampak sangat modis. Widi memandangi Yaksa dari ujung rambut sampai ke ujung sepatu yang ia kenakan.
“Hai, Wid! Lama gak ketemu yah? Pasti sibuk ngeband `kan?” Seketika Yaksa angkat bicara dengan nada bicaranya yang ceria.
“Eh, iya.” Jawab Widi kemudian.
“Udah pesen makanan? Pasti nasi tempe sama sate usus `kan?”
Widi terpana dengan daya ingat Yaksa yang cemerlang itu.
“Gabung yukk, keseberang. Ada yang lain juga disana.”
“Oke, gampang. Oh ya, kenalkan dulu temen aku, Ferza namanya.”
Setelah Widi dan Ferza berkenalan, Widi pun segera bergabung dengan ketiga temannya yang lain.
“Guys, itu Yaksa tau!” Bisik Widi kepada ketiga temannya yang sudah asyik bermain gitar dan bernyanyi ria.
“Yaksa, siapa?” Ucap Ridho dengan polosnya.
“Yah ngomong sama kamu juga gak bakal nyambung, Dho.” Komentar Bastian dengan kesal.
Uuuuch, siapa juga Yaksa? Bodo amat! Pikir Ridho dalam hati. Ia tak banyak ambil pikir akan hal itu. Ridho tetap saja memetik gitar merah hatinya.
“Hai, semuaaa… apa kabar? Boleh gabung `kan?” ucap Yaksa dengan wajah yang berseri-seri.
Seketika juga Ridho menghentikan permainan gitarnya saat ia melihat sosok Yaksa melambaikan tangan di depan mukanya. Oh, ini yang namanya Yaksa… Kembali Ridho teringat sebuah nama yang terpampang pada sampul buku biologi SMA yang pernah dipinjamnya dulu, jauh sebelum band ini terbentuk. Reina Anggara Yaksa, sebuah nama yang bisa membuat Ridho menciptakan berjuta-juta puisi. Sebuah nama yang membuatnya mengerti arti cinta.
“Oh, boleh aja kok.” Jawab Bastian dengan ketus.
“Reina…” Panggil Ridho kemudian.
“Yah, apa?” Ucap gadis yang dipanggil Yaksa oleh Widi beberapa saat lalu.
“Kamu tambah cantik yah!!” Ridho mengucapkan kata-kata itu dengan muka lugunya.
Hega, Bastian dan Widi yang hendak mengucapkan kalimat itu pun merasa tenggorokannya tercekat. Yaksa dan Ferza segera bergabung dengan mereka berempat. Mereka bisa cepat menyesuaikan diri dan dengan mudah saling bertukar cerita. Tak terasa, waktu dua jam pun berlalu dengan singkatnya. Kegelapan dan silau lampu yang menyorot tajam dari mobil-mobil yang melintas, serta derum motor yang beberapa kali menyelip mobil-mobil itu dengan kencangnya membuat Yaksa tak tahan. Yaksa sedang melayangkan otaknya pada sebuah karya tulis yang sedang dikerjakannya untuk melengkapi kelulusannya tahun ini. Yaksa pun berpikir untuk pamit pulang.
“Wid, Bas…., Ga, Dho kita pulang duluan yah. Sudah jam sembilan nih. Aku masih ada kerjaan di rumah. Met Having fun aja!” Ucap Yaksa.
“Aku juga pamit. Takut diomelin kalau pulang telat.” Ferza ikut menimpali.
“Oh yah, main kek sesekali ke rumah. Kalian pasti seneng deh kenalan sama dedekku.” Yaksa segera melambaikan tangannya.
Hega, Widi, Bastian dan Ridho menatap kepergian kedua makhluk itu dengan perasaan yang beraneka ragam. Seketika Hega, Widi dan Bastian mencubiti Ridho yang tadi nyerobot mengatakan kalau Yaksa tambah cantik. Mereka bertiga merasa tidak terima akan hal itu karena mereka pun masih sangat mengagumi Yaksa, jauh di dalam lubuk hati mereka.
Malam yang ramai dengan lalu lalang kendaraan bermotor tersebut mendadak menjadi malam yang penuh dengan kerinduan. Di masing-masing otak anggota X-Ray band terbayang kembali masa-masa disaat Yaksa menjadi kekasih mereka.
Hega, Bastian dan Ridho bisa dikatakan korban pelarian Yaksa. Namun Widi adalah satu-satunya cowok yang pernah menyakiti Yaksa. Widi sangat menyesal saat menduakan Yaksa dengan memilih Aira. Ia memang sudah dibutakan oleh sosok Aira yang sangat populer di kampusnya. Widi tak pernah memahami betapa Yaksa sangat menyayanginya. Yaksa kesulitan mengungkapkan perasaannya itu. Malah yang sering muncul adalah ejekan dan olokan Yaksa yang ditujukan kepada Widi.
Seminggu, setahun, dan satu setengah tahun kemudian adalah waktu dimana Hega, Bastian dan Ridho mengisi hari-hari Yaksa. Mereka lebih peka terhadap perasaan Yaksa ketimbang Widi. Hega paling tahu kalau Yaksa sangat menyukai cowok yang simpel dan apa adanya, seperti Widi. Hega juga cowok yang simpel, namun dia tetap tak bisa menggantikan sosok Widi di dalam hati Yaksa.
Hingga saat X-Ray band terprakarsai oleh mereka berempat, sebagai bentuk kasih sayang mereka terhadap sosok Yaksa yang pernah mengisi kehidupan mereka. Semuanya sudah terlambat. Hari itu, beberapa hari setelah X-Ray band terbentuk, Widi menerima undangan pernikahan Yaksa dari tangan Yaksa sendiri.
“Datang ya!” Wajah Yaksa terlihat sangat bahagia saat menyerahkan undangan pernikahannya.
“Kok terburu-buru gini, Sa?”
“Aku takut aja jatuh cinta lagi dengan seseorang yang tidak pernah memahami isi hatiku. Well, aku tunggu kedatangannya yah!” Yaksa menghilang dibalik pintu gerbang rumah Widi. Ia meninggalkan banyak penyesalan di hati Widi. Widi baru tahu dari Hega kalau Yaksa sangat menyayanginya, beberapa saat setelah mereka membentuk band.
Tiba-tiba suara klakson yang membahana mengejutkan lamunan mereka. Mereka berempat akan berusaha menjadi musisi yang hebat namun tetap menjalaninya dengan keceriaan. Semua itu adalah resep dari Yaksa.
Yaksa selalu mengatakan,”Apa gunanya main alat musik kalau tidak bisa memainkan alat itu dengan menyenangkan? Atau menyanyikan lagu tanpa perasaan, takkan ada yang mau ngedengerin tau!” Keempat musisi hebat yang pernah mengisi kehidupan Yaksa itu sangat menghargai Yaksa lebih dari apapun. Waktu akan terus bergulir karena semangat Yaksa masih ada di dalam hati mereka. X-Ray band akan terus exist, itulah janji mereka dalam hati.
Depok, 15 Agustus 2006
Written by Diane_yuyie
Entry Filed under: Cerpen. .
Trackback this post | Subscribe to the comments via RSS Feed