Curhatku… Long time ago
Juni 25, 2008
<!– @page { size: 21cm 29.7cm; margin: 2cm } P { margin-bottom: 0.21cm } –>
Tiga tangkai mawar yang indah. Mawar merah, putih dan pink sedikit oranye. Aku tak mengerti tentang perasaan yang tertuang dari ketiga mawar tersebut. Kira-kira apa ya? Apa yang terpikir dibenaknya saat ia merogoh sedikit uang dikantongnya untuk membelikanku mawar-mawar ini. Mengapa aku bertanya? Sedangkan ia jelas-jelas memberikanku kejutan. Yah, mungkin untuk menunjukkan betapa dia menyayangiku. Aku tahu dia sangat menyayangiku. Dia sudah memberikanku segalanya. Mungkin semua hal yang selama ini hanya kuimpi-impikan. Ingin sekali aku berterimakasih padanya atas segala pengertiannya, perhatiannya selama ini. Tapi apa yang kumiliki saat ini hanyalah rasa cintaku untuknya. Itu saja. Hanya itu yang mampu kuberikan padanya.
Sungguh naif yah? Disaat setiap orang bisa membahagiakan orang lain dengan segala yang ia miliki, aku hanya bisa memberikan cintaku saja kepada orang yang sangat kucintai. Entah seberapa besar aku mencintainya. Tapi setiap kali aku menerima kebaikannya, perhatiannya, kasih sayangnya, aku hanya sanggup meneteskan airmataku. Aku tak pernah tahan dengan yang namanya kebaikan seseorang. Terlebih lagi, seseorang yang selalu ingin membuatku bahagia.
Itulah dia. Sosok istimewa yang sungguh sulit kugambarkan dengan kata-kataku yang tak bermakna. Ia sangat berarti untukku. Kupikir memang selama ini dialah yang kutunggu. Untuk membuatku bangun dan tersadar dari keterpurukanku. Yah, aku tak pernah merasa benar-benar berarti sebelum mengenalnya. Aku hanya berjalan melampaui waktu. Melintasi hitam dan putih yang bagiku merupakan hiasan belaka. Tanpa makna.
Aku hanya sebongkah batu. Mengisi sela-sela tanah dan rumput yang tumbuh liar di manapun. Tak peduli rumput itu tumbuh dan layu. Tak peduli berapa kali sudah tanah-tanah disekitarku menumbuhkan pepohonan yang berbuah lebat. Aku masih tetap batu. Makin mengeras malah.
Apa yang dicari olehnya dari sisi kehidupanku yang lain? Dia hanya akan menemukan luka. Luka-luka yang selama ini datang dan pergi dari kehidupanku. Dan tak ada seorang pun yang bisa menjadi tempatku berbagi kepedihan. Karena kepedihan itu milikku sendiri. Cuma aku yang bisa menerima dan merasakannya dengan seluruh pori-pori di kulitku, dengan seluruh darah dan jiwaku. Dengan sisa otakku yang masih bergelayut di kepalaku.
Kadang aku merasa sisiku hampa. Apa yang kucari di dunia ini? Hhh, tak ada. Harapan, cita-citaku, keinginanku yang terbesar hanyalah agar bisa mendapatkan kebahagiaanku sendiri. Tapi aku tak bisa. Banyak orang disekitarku yang lebih membutuhkan kebahagiaan. Apa yang kudapatkan selama ini semuanya lebih dari cukup. Ingin aku bersujud lebih lama dalam doaku. Agar kebahagiaanku ini abadi.
Kenyataannya, tak ada yang abadi di dunia ini. Aku tahu. Seperti halnya luka-lukaku. Semua kebahagiaan itu hanya datang dan pergi. Tapi setidaknya, kebahagiaan akan memberikan kenangan yang indah dibenakku. Tapi kepedihan… Apa yang ditinggalkannya dalam memoriku hanyalah hasrat yang membuatku ingin meneteskan airmata lagi.
Aku masih seperti dulu. Tidak berubah samasekali. Dan tak akan berubah, seperti janjiku pada bintang terang yang jatuh sekejap di angkasa. Aku akan tetap menjadi aku. Apapun yang terjadi. Aku juga tak ingin menjadi seseorang yang lain.
Hidupku sedikit berubah sekarang. Aku merasa statis. Seperti membaca sebuah novel yang selalu kuulang-ulang setiap hari. Mungkin ’bosan’ sudah menguasai ruang dikepalaku. Aku ingin pergi. Pergi ke tempat aku bisa menghirup udara pagi yang tenang. Menatap fajar yang datang dari ufuk timur. Mendengar kicau burung yang membuatku terjaga dari lelapku dengan sendirinya.
Aku ingin menatap bintang. Dari setitik cahaya hingga sesaat kemudian berubah menjadi berjuta-juta titik cahaya di langit hitam. Menunggu bintang jatuhku lagi yang sanggup mengabulkan mimpi-mimpiku. Aku merindukan itu semua.
Aku juga ingin menghirup angin pantai yang terasa asin di rongga hidungku. Merasakan airnya yang menggelitik kulitku. Menikmati matahari yang membakar seluruh wajahku dan merubahnya menjadi merah kehitaman. Mencari-cari bunga rumput bulat, yang sering kusebut bunga rumput landak, yang biasa kubiarkan berlari-lari tertiup angin di sepanjang pantai.
Aku ingin berkeliling di malam gulita. Di tengah kota yang mulai angkuh dimakan waktu. Merasakan kesunyiannya. Beberapa kendaraan yang melintas, beberapa orang yang tertidur pulas di emperan toko, beberapa warung angkringan yang masih menawarkan secangkir kopi panas. Seolah baru kemarin aku mengalami semua itu.
Pengalaman yang mungkin dirasa aneh bagi orang lain. Tapi semua itu menakjubkan di mataku. Hujan yang turun deras ditengah kota, diatas aspal, diatas rerumputan diluar asramaku. Hujan yang membuatku merindukan seseorang yang begitu berarti untukku. Hujan yang selalu membuatku menangis lagi. Hujan yang membuatku teringat kenangan masa kecilku. Saat aku bermain dibawah derasnya. Membiarkan tubuh mungilku terbasahi oleh guyuran air hujan yang turun dari atap rumahku. Semua hanya tinggal kenangan. Kenangan indah yang takkan mungkin kembali.
Hujan yang juga pernah membuatku merasa begitu kedinginan, kesepian. Dalam setiap halilintar yang menggema, seolah-olah hanya bayang-bayang pertengkaran orangtuaku yang terlukis cepat dilayar otakku.
Bagaimana mereka membuatku menutup telingaku didalam kamar yang kukunci rapat. Menutupi kedua telingaku dengan bantal-bantal bisu yang akhirnya menjadi tempatku menumpahkan airmata.
Mereka selalu tak mengijinkanku menangis. Mereka seolah tak ingin melihat kesalahan mereka dari setiap tetes airmata yang mengalir dipipiku. Mereka selalu menyuruhku diam. Membungkamku dengan bentakan yang masih sering terngiang di telingaku. Bahkan sampai saat ini.
Aku tak pernah mendapatkan apa yang kuinginkan selama ini. Aku tak pernah berharap banyak. Disaat teman-temanku menceritakan kebahagiaannya. Aku hanya bisa menelan ludah, mengharap kebahagiaan itu pula yang menjadi milikku. Aku tumbuh dengan jiwa yang keras. Aku sudah terbiasa mendengar nada-nada sumbang yang terdengar beberapa oktaf lebih tinggi dari yang biasa kudengar lewat untaian kata-kata yang terurai dari mulut guru-guruku. Aku sudah terbiasa hidup dengan mengandalkan apa yang melekat ditubuhku saja. Aku rela berjalan jauh untuk menuju ke sekolahku dengan mengiris hati melihat teman-temanku melampauiku dengan kendaraan-kendaraan mereka yang lucu. Dengan kesetiaan orangtua mereka yang masih mau mengantar ke sekolah. Aku iri. Aku tak seberuntung mereka saat itu.
Aku selalu membahagiakan hatiku sendiri dengan menganggap semua kisah hidupku yang pahit itu adalah pengalaman yang mendewasakan pikiranku.
Aku menangis saat seseorang menilaiku memiliki hidup yang berkecukupan. Dengan rumah besar yang bisa melindungiku dari panas dan hujan. Tapi apa? Dimana-mana genteng rumahku bocor, dinding-dinding mulai berlumut, beberapa ruangan kosong tak terhuni. Hanya musik yang terlantun dari kaset di tape tuaku yang membuatku betah berlama-lama didalamnya. Juga dapur mungilku yang senantiasa setia membiarkanku berkreasi didalamnya. Dapur mungil yang menarik kehadiran beberapa teman kuliahku untuk main dan belajar masak bersamaku. What a nice story… old story.
Seseorang seringkali menilaiku dari satu sisi. Melihat betapa beruntungnya aku mendapatkan keluarga yang tinggal di sebuah rumah besar, yang sesungguhnya tak seberapa besar. Melihat betapa bisunya aku. Betapa tak pedulinya aku dengan sekitarku. Aku tak seberuntung seperti yang mereka kira. Mungkin mereka tak menyadari betapa mereka memiliki kehidupan yang lebih baik daripadaku. Bagiku rumah besar tak ada artinya tanpa keluarga yang utuh. Tak ada artinya tanpa kebahagiaan didalamnya. Tak ada artinya bila hanya airmata yang lebih banyak tertumpah daripada tawa.
Aku bersyukur, dengan keterbatasanku aku mampu menyelesaikan kuliahku yang sempat tergantung enggan di memo di binderku. Entahlah, semangat darimana yang membuatku menyadari bahwa aku masih bisa hidup dan menjalani semuanya dengan lebih baik.
Hhh, aku rindu nenekku yang sudah pergi itu. Nenek yang selalu terlihat bahagia saat menyambut kedatanganku. Nenek yang selalu menceritakan kerinduannya kepada cucu-cucunya yang lain. Kepada adik-adikku. Nenekku yang lucu, yang pernah sempat kuminta untuk mendoakanku agar aku mendapatkan jodoh yang baik. Hehehe, nenek nurut saja waktu itu. Aku rindu saat ia berusaha memberikan apa yang saat itu ia miliki. Meskipun tak seberapa. Nenek selalu memberiku uang saku. Hingga seringkali aku merasa berdosa saat datang padanya. Yah, seolah-olah aku hanya berharap uang saku darinya saja. Tapi nenek tak pernah mengeluh tak memiliki uang. Nenek selalu memberiku. Ia menyimpannya diatas lemari kayu tinggi yang berada di ruang sempit berukuran 4×2 meter. Dengan dua buah tempat tidur yang ditatanya menyudut. Betapa nenekku hidup dengan penuh pengorbanan. Ah, nenek saja tak mau tinggal dirumahku. Ia sudah cukup banyak melihat star wars, dan sebagai orangtua yang semakin renta aku tahu batinnya tak sanggup menahan itu di sisa waktunya.
Meskipun ia tinggal sebagai seorang abdi dalem di kraton. Yang kasarannya, cuma pembantu di kraton. Sepertinya ada semburat kebahagiaan yang ia dapatkan didalamnya. Mungkin kesibukan membantu majikannya yang membuatnya lupa dengan beban hidup yang ia alami.
Banyak hal yang ditinggalkan oleh nenekku. Bagaimana ia menyuruhku untuk menjaga adik-adikku, bagaimana ia menyuruhku sabar menghadapi orangtuaku, bagaimana ia menyuruhku menjadi seseorang yang berarti. Bagaimana ia selalu membawakanku tanaman-tanaman imut dari kebun di kraton yang dibuat hijau oleh telapak tangannya yang keriput. Ia takkan terlupakan. Oleh aku dan orang-orang disekitarnya yang menilainya sangat bahkan teramat sangat baik hati. Ia selalu bisa mempedulikan orang lain disekelilingnya, apapun itu. Dengan caranya sendiri. Ingin aku menuruni bakatnya. Yah, mungkin ada sedikit bakat nenek yang menurun padaku. Sikap peduli ke orang lain, yah ada laaah kalo sedikit. Sikap bijaksana dan lucu juga suka bercanda, hehehe nurun banget. Hobi masak dan berkebun, nurun deh 75%nya. Yang enggak kayaknya cuma satu deh. Nenek tuh kurus banget, badannya kecil. Kalau dibandingkan dengan aku yang bangkok ini sih jauhh… Yah, mungkin saja darah dagingnya sudah dibagi rata ke kesepuluh anaknya sampai akhirnya nenek kurus kering seperti itu.
Aku tak ingin mengingat saat kepergiannya. Tapi, waktu itu aku benar-benar tak menyadari bahwa ia telah diambil oleh Sang yang membuatku hidup juga. Bagaimana aku melawan arus orang-orang yang meninggalkan bangsal-bangsal dirumahsakit, bagaimana aku berlatih tersenyum untuk menemuinya diatas tempat tidur rumah sakit yang putih, mungkin ia tak berdaya, namun masih bisa bercanda. Itu pikirku. Tapi yang kudapati adalah tempat tidur dengan selimut yang menutupi sosok yang telah tiada. Sinetron banget!! Tapi memang begitulah kejadiannya.
Baru saja aku berhenti sejenak. Menghirup wangi mawar yang diberikan oleh cintaku. Menciptakan ketenangan yang merasuk di jiwaku. Aku berterimakasih padanya untuk mawar-mawar ini. Mawar-mawar yang mampu mengulang kenangan lamaku. Yang indah maupun yang pahit. Mawar yang sangat cantik.
Yah, aku ingat seseorang pernah mengibaratkanku seperti mawar yang membuatnya bagaikan kumbang yang enggan pergi jauh dari sosokku. Bullshit banget. Tapi aku suka. Cukup puitis kedengarannya. Dan itu cukup membuatku tersandung… eh salah tersanjung.
Kini, aku telah memperoleh kebahagiaanku sendiri. Seandainya nenek bisa melihatku, beliau pasti sangat senang bisa melihatku bahagia dengan sosok yang kuharapkan. Sosok yang bisa memahami aku apa adanya. Sosok yang bisa kuajak berantem, bercanda, tertawa, menangis. Yah, aku ingat ia pernah menangis. Sudah lama sekali…. Ia menangis dihadapanku. Aku jadi semakin sayang padanya, waktu itu.
Apa yang ingin kutahu dari benaknya adalah apakah dia bahagia hidup bersamaku? Aku tak pernah berani bertanya padanya. Apakah memang dia tak mengharap sosok lain yang lebih baik dariku? Sosok yang mungkin pernah sangat berarti di hatinya. Ia tak pernah mau mengungkit lagi hal itu. Kami pernah berjanji takkan bercerita tentang masa lalu. Tapi justru terkadang aku yang menceritakan masalaluku dengan sengaja hanya sekedar untuk mengetahui apakah dia marah. Tapi, dia menyikapi dengan biasa. Itulah yang kukagumi dari sosoknya. Meskipun dia marah, dia bisa dengan mudah menyembunyikannya. Tapi sungguh, aku hanya ingin ia bahagia. Terlebih lagi bila ia bahagia bersamaku.
Entry Filed under: CurHat. .
Trackback this post | Subscribe to the comments via RSS Feed